Dalam beberapa tahun terakhir, jika harus memilih satu orang dari Wall Street yang paling memahami cara menjelaskan Ethereum sebagai aset makro, Tom Lee pasti berada di daftar terdepan.
Bagi banyak investor keuangan tradisional, dia adalah analis yang berulang kali menekankan di media bahwa “pasar saham AS akan naik, Bitcoin akan naik, Ethereum akan naik”; sementara bagi peserta pasar kripto, dia lebih seperti akselerator narasi alternatif. Setiap kali pasar berada dalam fase ragu-ragu, menunggu, atau suasana hati yang rendah, dia sering menggunakan bahasa yang lebih tegas, target harga yang lebih agresif, untuk mengembalikan Bitcoin dan Ethereum ke sorotan keuangan arus utama.
Namun, pengaruh Tom Lee tidak muncul begitu saja. Dia bukan berasal dari dunia kripto, juga bukan dari membangun momentum di media sosial, melainkan seorang analis riset Wall Street yang khas. Karena bekerja lama di bank investasi dan lembaga riset, mahir dalam siklus makro, aliran dana, model valuasi, sebelum masuk ke bidang kripto dia sudah menjadi langganan media keuangan utama di AS. Kombinasi latar belakang keuangan tradisional dan keyakinan terhadap aset kripto inilah yang membuat dia menjadi salah satu dari sedikit orang yang didengar oleh kedua belah pihak.
一、Latar Belakang Wall Street: Dari Riset ke Strategi, Jalur Standar
Awal karir Tom Lee tidak misterius; dia mengikuti jalur yang sangat standar di Wall Street: riset, strategi, analisis makro, komunikasi dengan klien.
Yang membedakan, banyak analis strategi menjadi lebih berhati-hati di tahap akhir karir mereka, sedangkan gaya Tom Lee justru sebaliknya—semakin lama, semakin berani mengungkapkan arah yang jelas, bahkan berani menjadikan prediksi sebagai produk yang dapat disebarluaskan.
Di masa awal, Tom Lee pernah bekerja di beberapa lembaga keuangan di AS, salah satu pengalaman terpenting adalah saat dia menjabat sebagai Kepala Strategi Saham di JPMorgan Chase.
Di masa itu, dia mengembangkan dua kemampuan kunci: pertama, bagaimana mengubah variabel makro yang kompleks, seperti suku bunga, inflasi, dolar AS, spread kredit, laba perusahaan, menjadi pandangan investasi yang dapat dieksekusi. Kedua, bagaimana menjelaskan tren tertentu secara jelas kepada klien institusi dan membuat mereka bersedia membeli.
Pengalaman ini sangat penting karena pasar kripto pada dasarnya adalah pasar yang sangat dipengaruhi narasi; pergerakan harga sering kali tidak didorong oleh laporan keuangan, melainkan oleh ekspektasi makro, struktur dana, dan preferensi risiko secara bersama-sama. Keunggulan Tom Lee adalah mampu menerjemahkan bahasa makro menjadi bahasa pasar.
Jadi, dasar kesuksesannya bukanlah sebagai influencer di dunia kripto, melainkan sebagai orang yang mampu bercerita secara makro.
Pengakuan luas terhadap Tom Lee baru muncul setelah dia meninggalkan sistem bank investasi tradisional. Sekitar tahun 2014, dia bersama mitra mendirikan Fundstrat Global Advisors, yang biasa disingkat Fundstrat.
Ini adalah lembaga riset independen yang beroperasi di antara riset makro, strategi investasi, dan konsultasi pasar, melayani baik dana institusi maupun investor pasar yang lebih luas.
Pendirian Fundstrat sendiri mencerminkan perubahan zaman: riset Wall Street mulai beralih dari sistem bank investasi tradisional ke lembaga riset independen, dan para analis tidak lagi hanya melayani klien bank investasi, tetapi langsung menyampaikan pandangan ke pasar.
Di tahap ini, Tom Lee secara perlahan membangun merek pribadinya. Pandangannya cukup tegas, logikanya makro, dan penyampaiannya cukup cocok untuk disebarluaskan.
Dalam riset awal Fundstrat, medan utama dia tetap di pasar saham AS. Posisi bullish jangka panjang terhadap pasar saham AS sangat kuat, dia berulang kali menekankan bahwa pasar akan memberi penghargaan kepada pemegang jangka panjang, dan memberikan penilaian yang jelas di banyak titik penting.
Meskipun prediksinya tidak selalu tepat, dia memiliki keunggulan mampu memecah pasar menjadi kerangka kerja yang dapat dipahami, bukan sekadar memprediksi harga.
二、Berpindah ke Kripto: Salah Satu Penggerak “Wall Streetisasi” Narasi Bitcoin dan Ethereum
Peran Tom Lee di pasar kripto bisa dirangkum dalam satu kalimat: dia adalah salah satu orang yang membawa Bitcoin ke dalam sistem narasi Wall Street.
Banyak orang salah paham bahwa orang keuangan tradisional masuk ke pasar kripto karena melihat peluang keuntungan jangka pendek. Tapi logika Tom Lee lebih condong ke alokasi aset makro.
Dia memandang Bitcoin sebagai aset risiko baru, sekaligus sebagai alat hedging terhadap ketidakpastian sistem mata uang. Terutama di masa pelonggaran moneter global dan meluapnya likuiditas dolar, dia sering menganalisis Bitcoin bersama emas dan saham teknologi AS dalam kerangka yang sama.
Salah satu pandangannya yang paling sering dikutip adalah bahwa harga Bitcoin jangka panjang akan dipengaruhi oleh likuiditas global dan tingkat masuknya dana institusi, bukan semata-mata oleh sentimen ritel. Dengan kata lain, dia berbicara bukan tentang strategi pasar kripto, melainkan logika penetapan harga aset.
Misalnya, selama bull run Bitcoin tahun 2017, pandangan terbukanya mulai sering muncul di media keuangan utama. Posisi bullish terhadap Bitcoin sangat agresif, dan dia memberikan banyak target harga tinggi.
Gaya ini tentu tidak aneh di dunia kripto, tetapi sangat jarang di kalangan analis Wall Street. Karena itu, dia cepat menjadi favorit media, menjadi figur yang memiliki otoritas keuangan tradisional sekaligus narasi berlebihan dari dunia kripto.
Namun, orang yang selalu bullish pasti akan selalu dipertanyakan. Baik saat pasar kripto turun, maupun saat Ethereum terus merosot.
Semakin besar ketenarannya, semakin banyak pula kontroversinya. Terutama selama bear market tahun 2018 dan 2022, posisi bullish jangka panjangnya sering diejek pasar. Di media sosial, dia sering diberi label “selalu bullish” dan “raja prediksi puncak”.
Tapi jika kita tempatkan perannya dalam narasi yang lebih besar, kontroversi ini sebenarnya wajar. Tom Lee bukan trader jangka pendek; dia lebih seperti analis narasi makro. Kerjanya bukan memprediksi harga secara tepat hari tertentu, melainkan menyediakan kerangka jangka panjang untuk pasar.
Dia sering menekankan logika utama seperti kelangkaan Bitcoin dan struktur pasokan dan permintaan jangka panjangnya, pengaruh siklus kebijakan moneter global terhadap aset risiko, penilaian ulang akibat masuknya dana institusi, hubungan antara pelemahan dolar dan kenaikan inflasi yang mendorong aset pengganti…
Logika ini tidak baru, tetapi keunggulan Tom Lee adalah mampu menyampaikan logika tersebut dengan gaya khas Wall Street dan cukup menarik untuk disebarkan di televisi.
Dengan kata lain, prediksinya mungkin salah, tetapi narasinya akan tetap dikenang.
三、ETH—Aset Dasar Finansial dari Perspektif Tom Lee
Banyak orang optimis terhadap ETH karena faktor teknologi, ekosistem, pengembang, L2, dan lain-lain. Tapi logika Tom Lee yang mendukung ETH lebih bersifat finansial; dia menggunakan pendekatan valuasi yang mendekati aset tradisional untuk memahami Ethereum.
Dalam keuangan tradisional, dolar AS adalah mata uang penyelesaian, kas adalah inti di pasar saham AS, dan trafik adalah sumber daya dasar di internet.
Sedangkan dari sudut pandang Tom Lee, Ethereum berperan sebagai “lapisan penyelesaian di atas rantai”.
Kamu akan melihat bahwa transaksi stablecoin di atas rantai, RWA, pinjaman di blockchain, semuanya membutuhkan lapisan penyelesaian yang terpercaya. Meskipun banyak blockchain bersaing untuk posisi ini, Ethereum secara jangka panjang tetap unggul dalam hal keamanan, ekosistem, dan pengakuan institusional.
Bagi Tom Lee, ETH bukan sekadar token proyek, melainkan aset inti dari infrastruktur keuangan dasar. Selama keuangan di atas rantai terus berkembang, nilai ETH memiliki dasar jangka panjang untuk diambil.
Selain itu, ETH lebih mirip aset produktif, bukan sekadar aset spekulatif—ini adalah poin utama mengapa Tom Lee sangat percaya pada ETH.
Logika nilai Bitcoin lebih dekat ke emas digital: kelangkaan, anti-inflasi, penyimpanan nilai.
Sedangkan logika nilai ETH lebih mirip aset produktif, seperti pendapatan dari biaya transaksi jaringan, mekanisme pembakaran yang mengurangi pasokan, staking yang memberi ETH semacam “hasil”, dan ekosistem yang berkembang akan meningkatkan aktivitas di atas rantai, sehingga meningkatkan permintaan ETH…
Struktur ini membuat ETH dalam pandangan dia lebih seperti aset dengan arus kas internal, mirip semacam saham infrastruktur internet baru.
Ketika pasar memasuki fase institusional, institusi cenderung lebih menyukai aset yang dapat menjelaskan jalur penangkapan nilai ini, bukan yang hanya naik karena konsensus.
Selain itu, ETH memiliki mekanisme penguatan pasokan dan permintaan yang lebih jelas, yaitu deflasi dan staking.
Setelah Ethereum beralih ke PoS, muncul dua mekanisme penting: staking mengurangi pasokan yang beredar (lock-up), dan pembakaran mengurangi total pasokan (deflasi). Ini berarti selama aktivitas jaringan Ethereum tetap di tingkat tertentu, hubungan pasokan dan permintaan ETH bisa tetap ketat dalam jangka panjang.
Ini jarang ditemukan di aset tradisional, karena saham bisa melakukan buyback, tetapi buyback memerlukan laba perusahaan. Emas pasokannya stabil tetapi tidak bisa dikurangi. Sedangkan pasokan ETH akan berubah secara dinamis sesuai aktivitas jaringan. Mekanisme ini memberi ETH model ekonomi yang memperkuat dirinya sendiri.
Terakhir, dan yang paling penting, ETH adalah aset utama dalam narasi yang sesuai regulasi, sehingga lebih mudah diterima institusi.
Tom Lee sudah menekankan sejak awal bahwa pasar kripto akhirnya akan menuju ke arah institusionalisasi dan kepatuhan. Setelah ETF muncul, aset kripto mulai masuk ke dalam kerangka alokasi aset keuangan tradisional.
Bagi institusi, Bitcoin paling mudah dipahami karena narasinya sederhana. Sedangkan ETH, jika diintegrasikan ke dalam kerangka regulasi, akan meningkat daya tariknya secara cepat karena bukan hanya sebagai penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset dasar ekonomi di atas rantai.
Kriteria utama institusi biasanya adalah sumber nilai yang dapat dijelaskan, permintaan yang berkelanjutan, kedalaman pasar yang lebih matang, dan batasan regulasi yang lebih jelas. ETH secara bertahap memenuhi semua syarat ini, dan ini adalah poin yang sering ditekankan Tom Lee. Ketika pasar kripto memasuki tahap berikutnya, valuasi ETH akan semakin mirip aset tradisional, bukan sekadar spekulasi.
Penutup
Jadi, inti dari pandangan Tom Lee bukanlah sekadar bullish, melainkan memahami siklusnya. Dia bukan influencer yang hanya berteriak-teriak di dunia kripto, melainkan seorang analis strategi yang menempatkan aset kripto dalam kerangka makro. Posisi bullish jangka panjangnya berasal dari pemahaman siklus aset risiko. Sedangkan preferensinya terhadap ETH berasal dari penilaiannya terhadap aset dasar keuangan di atas rantai.
Dalam pandangannya, Bitcoin lebih seperti emas digital, indikator likuiditas makro dan preferensi risiko. Sedangkan Ethereum lebih seperti aset inti dari sistem keuangan di atas rantai, yang akan langsung mendapatkan manfaat dari ekspansi ekonomi di atas rantai tersebut.
Oleh karena itu, di pasar yang penuh noise ini, Tom Lee menawarkan cara berpikir yang lebih dekat ke institusi dan jangka panjang. Dan cara berpikir ini, justru menjadi kemampuan langka yang sangat dicari oleh banyak investor biasa.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tom Lee—dari analis strategi Wall Street menjadi bullish Ethereum terbesar
Penulis: Climber, CryptoPulseLabs
Dalam beberapa tahun terakhir, jika harus memilih satu orang dari Wall Street yang paling memahami cara menjelaskan Ethereum sebagai aset makro, Tom Lee pasti berada di daftar terdepan.
Bagi banyak investor keuangan tradisional, dia adalah analis yang berulang kali menekankan di media bahwa “pasar saham AS akan naik, Bitcoin akan naik, Ethereum akan naik”; sementara bagi peserta pasar kripto, dia lebih seperti akselerator narasi alternatif. Setiap kali pasar berada dalam fase ragu-ragu, menunggu, atau suasana hati yang rendah, dia sering menggunakan bahasa yang lebih tegas, target harga yang lebih agresif, untuk mengembalikan Bitcoin dan Ethereum ke sorotan keuangan arus utama.
Namun, pengaruh Tom Lee tidak muncul begitu saja. Dia bukan berasal dari dunia kripto, juga bukan dari membangun momentum di media sosial, melainkan seorang analis riset Wall Street yang khas. Karena bekerja lama di bank investasi dan lembaga riset, mahir dalam siklus makro, aliran dana, model valuasi, sebelum masuk ke bidang kripto dia sudah menjadi langganan media keuangan utama di AS. Kombinasi latar belakang keuangan tradisional dan keyakinan terhadap aset kripto inilah yang membuat dia menjadi salah satu dari sedikit orang yang didengar oleh kedua belah pihak.
一、Latar Belakang Wall Street: Dari Riset ke Strategi, Jalur Standar
Awal karir Tom Lee tidak misterius; dia mengikuti jalur yang sangat standar di Wall Street: riset, strategi, analisis makro, komunikasi dengan klien.
Yang membedakan, banyak analis strategi menjadi lebih berhati-hati di tahap akhir karir mereka, sedangkan gaya Tom Lee justru sebaliknya—semakin lama, semakin berani mengungkapkan arah yang jelas, bahkan berani menjadikan prediksi sebagai produk yang dapat disebarluaskan.
Di masa awal, Tom Lee pernah bekerja di beberapa lembaga keuangan di AS, salah satu pengalaman terpenting adalah saat dia menjabat sebagai Kepala Strategi Saham di JPMorgan Chase.
Di masa itu, dia mengembangkan dua kemampuan kunci: pertama, bagaimana mengubah variabel makro yang kompleks, seperti suku bunga, inflasi, dolar AS, spread kredit, laba perusahaan, menjadi pandangan investasi yang dapat dieksekusi. Kedua, bagaimana menjelaskan tren tertentu secara jelas kepada klien institusi dan membuat mereka bersedia membeli.
Pengalaman ini sangat penting karena pasar kripto pada dasarnya adalah pasar yang sangat dipengaruhi narasi; pergerakan harga sering kali tidak didorong oleh laporan keuangan, melainkan oleh ekspektasi makro, struktur dana, dan preferensi risiko secara bersama-sama. Keunggulan Tom Lee adalah mampu menerjemahkan bahasa makro menjadi bahasa pasar.
Jadi, dasar kesuksesannya bukanlah sebagai influencer di dunia kripto, melainkan sebagai orang yang mampu bercerita secara makro.
Pengakuan luas terhadap Tom Lee baru muncul setelah dia meninggalkan sistem bank investasi tradisional. Sekitar tahun 2014, dia bersama mitra mendirikan Fundstrat Global Advisors, yang biasa disingkat Fundstrat.
Ini adalah lembaga riset independen yang beroperasi di antara riset makro, strategi investasi, dan konsultasi pasar, melayani baik dana institusi maupun investor pasar yang lebih luas.
Pendirian Fundstrat sendiri mencerminkan perubahan zaman: riset Wall Street mulai beralih dari sistem bank investasi tradisional ke lembaga riset independen, dan para analis tidak lagi hanya melayani klien bank investasi, tetapi langsung menyampaikan pandangan ke pasar.
Di tahap ini, Tom Lee secara perlahan membangun merek pribadinya. Pandangannya cukup tegas, logikanya makro, dan penyampaiannya cukup cocok untuk disebarluaskan.
Dalam riset awal Fundstrat, medan utama dia tetap di pasar saham AS. Posisi bullish jangka panjang terhadap pasar saham AS sangat kuat, dia berulang kali menekankan bahwa pasar akan memberi penghargaan kepada pemegang jangka panjang, dan memberikan penilaian yang jelas di banyak titik penting.
Meskipun prediksinya tidak selalu tepat, dia memiliki keunggulan mampu memecah pasar menjadi kerangka kerja yang dapat dipahami, bukan sekadar memprediksi harga.
二、Berpindah ke Kripto: Salah Satu Penggerak “Wall Streetisasi” Narasi Bitcoin dan Ethereum
Peran Tom Lee di pasar kripto bisa dirangkum dalam satu kalimat: dia adalah salah satu orang yang membawa Bitcoin ke dalam sistem narasi Wall Street.
Banyak orang salah paham bahwa orang keuangan tradisional masuk ke pasar kripto karena melihat peluang keuntungan jangka pendek. Tapi logika Tom Lee lebih condong ke alokasi aset makro.
Dia memandang Bitcoin sebagai aset risiko baru, sekaligus sebagai alat hedging terhadap ketidakpastian sistem mata uang. Terutama di masa pelonggaran moneter global dan meluapnya likuiditas dolar, dia sering menganalisis Bitcoin bersama emas dan saham teknologi AS dalam kerangka yang sama.
Salah satu pandangannya yang paling sering dikutip adalah bahwa harga Bitcoin jangka panjang akan dipengaruhi oleh likuiditas global dan tingkat masuknya dana institusi, bukan semata-mata oleh sentimen ritel. Dengan kata lain, dia berbicara bukan tentang strategi pasar kripto, melainkan logika penetapan harga aset.
Misalnya, selama bull run Bitcoin tahun 2017, pandangan terbukanya mulai sering muncul di media keuangan utama. Posisi bullish terhadap Bitcoin sangat agresif, dan dia memberikan banyak target harga tinggi.
Gaya ini tentu tidak aneh di dunia kripto, tetapi sangat jarang di kalangan analis Wall Street. Karena itu, dia cepat menjadi favorit media, menjadi figur yang memiliki otoritas keuangan tradisional sekaligus narasi berlebihan dari dunia kripto.
Namun, orang yang selalu bullish pasti akan selalu dipertanyakan. Baik saat pasar kripto turun, maupun saat Ethereum terus merosot.
Semakin besar ketenarannya, semakin banyak pula kontroversinya. Terutama selama bear market tahun 2018 dan 2022, posisi bullish jangka panjangnya sering diejek pasar. Di media sosial, dia sering diberi label “selalu bullish” dan “raja prediksi puncak”.
Tapi jika kita tempatkan perannya dalam narasi yang lebih besar, kontroversi ini sebenarnya wajar. Tom Lee bukan trader jangka pendek; dia lebih seperti analis narasi makro. Kerjanya bukan memprediksi harga secara tepat hari tertentu, melainkan menyediakan kerangka jangka panjang untuk pasar.
Dia sering menekankan logika utama seperti kelangkaan Bitcoin dan struktur pasokan dan permintaan jangka panjangnya, pengaruh siklus kebijakan moneter global terhadap aset risiko, penilaian ulang akibat masuknya dana institusi, hubungan antara pelemahan dolar dan kenaikan inflasi yang mendorong aset pengganti…
Logika ini tidak baru, tetapi keunggulan Tom Lee adalah mampu menyampaikan logika tersebut dengan gaya khas Wall Street dan cukup menarik untuk disebarkan di televisi.
Dengan kata lain, prediksinya mungkin salah, tetapi narasinya akan tetap dikenang.
三、ETH—Aset Dasar Finansial dari Perspektif Tom Lee
Banyak orang optimis terhadap ETH karena faktor teknologi, ekosistem, pengembang, L2, dan lain-lain. Tapi logika Tom Lee yang mendukung ETH lebih bersifat finansial; dia menggunakan pendekatan valuasi yang mendekati aset tradisional untuk memahami Ethereum.
Dalam keuangan tradisional, dolar AS adalah mata uang penyelesaian, kas adalah inti di pasar saham AS, dan trafik adalah sumber daya dasar di internet.
Sedangkan dari sudut pandang Tom Lee, Ethereum berperan sebagai “lapisan penyelesaian di atas rantai”.
Kamu akan melihat bahwa transaksi stablecoin di atas rantai, RWA, pinjaman di blockchain, semuanya membutuhkan lapisan penyelesaian yang terpercaya. Meskipun banyak blockchain bersaing untuk posisi ini, Ethereum secara jangka panjang tetap unggul dalam hal keamanan, ekosistem, dan pengakuan institusional.
Bagi Tom Lee, ETH bukan sekadar token proyek, melainkan aset inti dari infrastruktur keuangan dasar. Selama keuangan di atas rantai terus berkembang, nilai ETH memiliki dasar jangka panjang untuk diambil.
Selain itu, ETH lebih mirip aset produktif, bukan sekadar aset spekulatif—ini adalah poin utama mengapa Tom Lee sangat percaya pada ETH.
Logika nilai Bitcoin lebih dekat ke emas digital: kelangkaan, anti-inflasi, penyimpanan nilai.
Sedangkan logika nilai ETH lebih mirip aset produktif, seperti pendapatan dari biaya transaksi jaringan, mekanisme pembakaran yang mengurangi pasokan, staking yang memberi ETH semacam “hasil”, dan ekosistem yang berkembang akan meningkatkan aktivitas di atas rantai, sehingga meningkatkan permintaan ETH…
Struktur ini membuat ETH dalam pandangan dia lebih seperti aset dengan arus kas internal, mirip semacam saham infrastruktur internet baru.
Ketika pasar memasuki fase institusional, institusi cenderung lebih menyukai aset yang dapat menjelaskan jalur penangkapan nilai ini, bukan yang hanya naik karena konsensus.
Selain itu, ETH memiliki mekanisme penguatan pasokan dan permintaan yang lebih jelas, yaitu deflasi dan staking.
Setelah Ethereum beralih ke PoS, muncul dua mekanisme penting: staking mengurangi pasokan yang beredar (lock-up), dan pembakaran mengurangi total pasokan (deflasi). Ini berarti selama aktivitas jaringan Ethereum tetap di tingkat tertentu, hubungan pasokan dan permintaan ETH bisa tetap ketat dalam jangka panjang.
Ini jarang ditemukan di aset tradisional, karena saham bisa melakukan buyback, tetapi buyback memerlukan laba perusahaan. Emas pasokannya stabil tetapi tidak bisa dikurangi. Sedangkan pasokan ETH akan berubah secara dinamis sesuai aktivitas jaringan. Mekanisme ini memberi ETH model ekonomi yang memperkuat dirinya sendiri.
Terakhir, dan yang paling penting, ETH adalah aset utama dalam narasi yang sesuai regulasi, sehingga lebih mudah diterima institusi.
Tom Lee sudah menekankan sejak awal bahwa pasar kripto akhirnya akan menuju ke arah institusionalisasi dan kepatuhan. Setelah ETF muncul, aset kripto mulai masuk ke dalam kerangka alokasi aset keuangan tradisional.
Bagi institusi, Bitcoin paling mudah dipahami karena narasinya sederhana. Sedangkan ETH, jika diintegrasikan ke dalam kerangka regulasi, akan meningkat daya tariknya secara cepat karena bukan hanya sebagai penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset dasar ekonomi di atas rantai.
Kriteria utama institusi biasanya adalah sumber nilai yang dapat dijelaskan, permintaan yang berkelanjutan, kedalaman pasar yang lebih matang, dan batasan regulasi yang lebih jelas. ETH secara bertahap memenuhi semua syarat ini, dan ini adalah poin yang sering ditekankan Tom Lee. Ketika pasar kripto memasuki tahap berikutnya, valuasi ETH akan semakin mirip aset tradisional, bukan sekadar spekulasi.
Penutup
Jadi, inti dari pandangan Tom Lee bukanlah sekadar bullish, melainkan memahami siklusnya. Dia bukan influencer yang hanya berteriak-teriak di dunia kripto, melainkan seorang analis strategi yang menempatkan aset kripto dalam kerangka makro. Posisi bullish jangka panjangnya berasal dari pemahaman siklus aset risiko. Sedangkan preferensinya terhadap ETH berasal dari penilaiannya terhadap aset dasar keuangan di atas rantai.
Dalam pandangannya, Bitcoin lebih seperti emas digital, indikator likuiditas makro dan preferensi risiko. Sedangkan Ethereum lebih seperti aset inti dari sistem keuangan di atas rantai, yang akan langsung mendapatkan manfaat dari ekspansi ekonomi di atas rantai tersebut.
Oleh karena itu, di pasar yang penuh noise ini, Tom Lee menawarkan cara berpikir yang lebih dekat ke institusi dan jangka panjang. Dan cara berpikir ini, justru menjadi kemampuan langka yang sangat dicari oleh banyak investor biasa.