Pada tahun 1970-an, pengalaman berbelanja yang tampaknya sederhana memicu ide bisnis revolusioner. Roy Raymond menemukan dirinya dalam situasi canggung saat membeli lingerie untuk istrinya di sebuah toko serba ada tradisional, di mana pakaian intim semacam itu ditempatkan di bagian yang keras dan klinis. Momen tidak nyaman ini membuka peluang pasar yang akan mengubah ritel selamanya. Alih-alih mengabaikan pengalaman tersebut, Roy Raymond memutuskan untuk mengatasi apa yang dia anggap sebagai kekurangan besar di pasar—suatu ruang di mana wanita dapat berbelanja lingerie dalam lingkungan yang canggih, nyaman, dan menyambut.
Taruhan Strategis Roy Raymond: Membangun Fondasi
Mengubah visi menjadi kenyataan membutuhkan komitmen keuangan yang besar. Roy Raymond bekerja sama dengan pasangannya, Gaye Raymond, untuk mengumpulkan sumber daya bagi usaha ambisius mereka. Pasangan ini mendapatkan dana sebesar 40.000 dolar dari pinjaman bank dan mengumpulkan tambahan 40.000 dolar dari dukungan keluarga—total investasi sebesar 80.000 dolar yang akan menjadi modal awal untuk butik pertama mereka. Dengan dana ini, mereka merancang dan meluncurkan lokasi Victoria’s Secret pertama, mengisi toko tersebut dengan estetika era Victoria dan keanggunan yang halus yang kemudian menjadi identitas khas merek tersebut.
Warisan Abadi: Dari Butik ke Raksasa Pasar
Visi strategis yang dibangun Roy Raymond dan Gaye Raymond lima puluh tahun yang lalu terus beresonansi dalam lanskap ritel saat ini. Pada awal 2026, Victoria’s Secret & Co menguasai kapitalisasi pasar sebesar 2,32 miliar USD, menempatkan perusahaan ini sebagai perusahaan ke-4347 paling berharga di dunia. Penilaian ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan finansial, tetapi juga validasi terhadap wawasan asli Roy Raymond—bahwa konsumen akan menerima pengalaman berbelanja premium dan secara estetika disengaja. Perkembangan merek ini dari sebuah butik tunggal yang berakar pada ketidaknyamanan pribadi menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar menunjukkan bagaimana mengidentifikasi masalah nyata konsumen dapat mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Visi Berani Roy Raymond: Momen Toko Serba Ada yang Meluncurkan Victoria's Secret
Pada tahun 1970-an, pengalaman berbelanja yang tampaknya sederhana memicu ide bisnis revolusioner. Roy Raymond menemukan dirinya dalam situasi canggung saat membeli lingerie untuk istrinya di sebuah toko serba ada tradisional, di mana pakaian intim semacam itu ditempatkan di bagian yang keras dan klinis. Momen tidak nyaman ini membuka peluang pasar yang akan mengubah ritel selamanya. Alih-alih mengabaikan pengalaman tersebut, Roy Raymond memutuskan untuk mengatasi apa yang dia anggap sebagai kekurangan besar di pasar—suatu ruang di mana wanita dapat berbelanja lingerie dalam lingkungan yang canggih, nyaman, dan menyambut.
Taruhan Strategis Roy Raymond: Membangun Fondasi
Mengubah visi menjadi kenyataan membutuhkan komitmen keuangan yang besar. Roy Raymond bekerja sama dengan pasangannya, Gaye Raymond, untuk mengumpulkan sumber daya bagi usaha ambisius mereka. Pasangan ini mendapatkan dana sebesar 40.000 dolar dari pinjaman bank dan mengumpulkan tambahan 40.000 dolar dari dukungan keluarga—total investasi sebesar 80.000 dolar yang akan menjadi modal awal untuk butik pertama mereka. Dengan dana ini, mereka merancang dan meluncurkan lokasi Victoria’s Secret pertama, mengisi toko tersebut dengan estetika era Victoria dan keanggunan yang halus yang kemudian menjadi identitas khas merek tersebut.
Warisan Abadi: Dari Butik ke Raksasa Pasar
Visi strategis yang dibangun Roy Raymond dan Gaye Raymond lima puluh tahun yang lalu terus beresonansi dalam lanskap ritel saat ini. Pada awal 2026, Victoria’s Secret & Co menguasai kapitalisasi pasar sebesar 2,32 miliar USD, menempatkan perusahaan ini sebagai perusahaan ke-4347 paling berharga di dunia. Penilaian ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan finansial, tetapi juga validasi terhadap wawasan asli Roy Raymond—bahwa konsumen akan menerima pengalaman berbelanja premium dan secara estetika disengaja. Perkembangan merek ini dari sebuah butik tunggal yang berakar pada ketidaknyamanan pribadi menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar menunjukkan bagaimana mengidentifikasi masalah nyata konsumen dapat mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.