Pada awal Februari, Parlemen Prancis akhirnya menyetujui rencana anggaran untuk tahun 2026, menandai titik balik setelah berminggu-minggu ketidakstabilan yang secara signifikan merusak kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas fiskal Prancis. Perdana Menteri Le Corny dan koalisi pemerintahnya berhasil mengonsolidasikan dukungan yang diperlukan untuk melanjutkan proposal tersebut, meskipun menghadapi komposisi parlemen yang terfragmentasi dan menentang.
Dua Ujian Politik Dilalui dengan Margin Ketat
Persetujuan tersebut tidak terjadi secara otomatis. Majelis Nasional mengajukan anggaran tersebut ke dua pemungutan suara mosi tidak percaya yang kritis, yang berpotensi mengganggu kestabilan eksekutif. Mosi pertama, diajukan oleh anggota parlemen dari sayap kiri ekstrem, memperoleh 260 suara, jauh di bawah 289 suara yang diperlukan untuk menggulingkan pemerintah minoritas. Upaya kedua dari sayap kanan ekstrem hanya mendapatkan 135 suara, menunjukkan lemahnya kohesi di antara blok oposisi. Kegagalan berturut-turut ini memperkuat posisi pemerintah di parlemen.
Konsesi Ekonomi Menandai Komitmen Politik
Untuk memastikan pengesahan anggaran, tim pemerintah harus melakukan negosiasi strategis yang menghasilkan penyesuaian signifikan terhadap langkah-langkah fiskal awal. Dibandingkan dengan proposal awal, pemerintah menyetujui pengurangan pengeluaran publik yang lebih moderat dan menerapkan kenaikan pajak yang lebih ringan daripada yang sebelumnya disinyalirkan. Sebagai akibat dari fleksibilitas ini, defisit fiskal yang diproyeksikan untuk tahun tersebut akan mencapai 5%, melebihi target yang awalnya ditetapkan.
Pelajaran dari Masa Lalu dan Stabilitas yang Dipulihkan
Le Corny berhasil menghindari nasib pendahulunya yang dipaksa meninggalkan jabatan karena konflik yang tak terselesaikan dengan Majelis Nasional mengenai langkah-langkah penghematan. Kemenangan legislatif ini menandai kemungkinan pemulihan kepercayaan pasar, karena ketidakpastian yang menjadi ciri turbulensi politik beberapa minggu sebelumnya setidaknya sementara telah berkurang. Hasil ini menunjukkan bahwa bahkan dalam konteks fragmentasi parlemen, negosiasi pragmatis dapat menghasilkan hasil yang memungkinkan keberlangsungan pengelolaan fiskal.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Perancis Mengesahkan Anggaran 2026 Setelah Mengatasi Ketidakstabilan Politik
Pada awal Februari, Parlemen Prancis akhirnya menyetujui rencana anggaran untuk tahun 2026, menandai titik balik setelah berminggu-minggu ketidakstabilan yang secara signifikan merusak kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas fiskal Prancis. Perdana Menteri Le Corny dan koalisi pemerintahnya berhasil mengonsolidasikan dukungan yang diperlukan untuk melanjutkan proposal tersebut, meskipun menghadapi komposisi parlemen yang terfragmentasi dan menentang.
Dua Ujian Politik Dilalui dengan Margin Ketat
Persetujuan tersebut tidak terjadi secara otomatis. Majelis Nasional mengajukan anggaran tersebut ke dua pemungutan suara mosi tidak percaya yang kritis, yang berpotensi mengganggu kestabilan eksekutif. Mosi pertama, diajukan oleh anggota parlemen dari sayap kiri ekstrem, memperoleh 260 suara, jauh di bawah 289 suara yang diperlukan untuk menggulingkan pemerintah minoritas. Upaya kedua dari sayap kanan ekstrem hanya mendapatkan 135 suara, menunjukkan lemahnya kohesi di antara blok oposisi. Kegagalan berturut-turut ini memperkuat posisi pemerintah di parlemen.
Konsesi Ekonomi Menandai Komitmen Politik
Untuk memastikan pengesahan anggaran, tim pemerintah harus melakukan negosiasi strategis yang menghasilkan penyesuaian signifikan terhadap langkah-langkah fiskal awal. Dibandingkan dengan proposal awal, pemerintah menyetujui pengurangan pengeluaran publik yang lebih moderat dan menerapkan kenaikan pajak yang lebih ringan daripada yang sebelumnya disinyalirkan. Sebagai akibat dari fleksibilitas ini, defisit fiskal yang diproyeksikan untuk tahun tersebut akan mencapai 5%, melebihi target yang awalnya ditetapkan.
Pelajaran dari Masa Lalu dan Stabilitas yang Dipulihkan
Le Corny berhasil menghindari nasib pendahulunya yang dipaksa meninggalkan jabatan karena konflik yang tak terselesaikan dengan Majelis Nasional mengenai langkah-langkah penghematan. Kemenangan legislatif ini menandai kemungkinan pemulihan kepercayaan pasar, karena ketidakpastian yang menjadi ciri turbulensi politik beberapa minggu sebelumnya setidaknya sementara telah berkurang. Hasil ini menunjukkan bahwa bahkan dalam konteks fragmentasi parlemen, negosiasi pragmatis dapat menghasilkan hasil yang memungkinkan keberlangsungan pengelolaan fiskal.