Dalam latar belakang situasi yang memburuk di Gaza, mulai muncul kerusuhan internasional terkait peran Israel dalam pelanggaran gencatan senjata. Pada awal Februari 2026, menteri luar negeri Qatar, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, dan Arab Saudi mengeluarkan posisi terkoordinasi, mengkritik pelanggaran sistematis terhadap kesepakatan yang telah dicapai.
Posisi Bersama Komunitas Internasional
Delapan menteri mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan keprihatinan mendalam terhadap tindakan Israel. Menurut data Jin10, kerusuhan dan pertempuran baru-baru ini di lapangan telah menyebabkan lebih dari seribu korban di kalangan warga sipil. Tingkat kerugian ini menunjukkan eskalasi konflik dan penyimpangan dari prinsip-prinsip yang diatur dalam kesepakatan. Komunitas internasional menganggap tindakan ini sebagai pelanggaran sengaja terhadap ketentuan yang disepakati.
Ancaman terhadap Stabilitas dan Perdamaian Regional
Para menteri menegaskan bahwa pelanggaran yang terus-menerus ini menciptakan bahaya serius bagi perkembangan situasi di kawasan. Tindakan Israel dapat memperburuk ketegangan yang sudah ada antara negara-negara Timur Tengah dan Asia, merusak upaya bertahun-tahun untuk menegakkan perdamaian yang kokoh. Para ahli menyoroti bahwa hal ini juga menghambat pembangunan kepercayaan antar pihak dan membuat tidak mungkin terciptanya kondisi untuk beralih ke normalisasi situasi di Gaza.
Prospek dan Upaya Internasional untuk Proses Perdamaian
Delapan menteri menekankan pentingnya semua pihak menunjukkan kemauan politik dan bekerja secara aktif demi keberhasilan tahap kedua dari rencana pemulihan perdamaian. Komunitas internasional menyerukan agar kesepakatan yang telah dicapai dipatuhi dan menciptakan kondisi nyata untuk membawa kawasan ke fase perkembangan yang lebih stabil. Posisi bersama mereka menunjukkan bahwa kerusuhan dan pelanggaran kesepakatan memiliki konsekuensi internasional yang serius.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kerusuhan di Gaza: delapan negara mengutuk keras pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Israel
Dalam latar belakang situasi yang memburuk di Gaza, mulai muncul kerusuhan internasional terkait peran Israel dalam pelanggaran gencatan senjata. Pada awal Februari 2026, menteri luar negeri Qatar, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, dan Arab Saudi mengeluarkan posisi terkoordinasi, mengkritik pelanggaran sistematis terhadap kesepakatan yang telah dicapai.
Posisi Bersama Komunitas Internasional
Delapan menteri mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan keprihatinan mendalam terhadap tindakan Israel. Menurut data Jin10, kerusuhan dan pertempuran baru-baru ini di lapangan telah menyebabkan lebih dari seribu korban di kalangan warga sipil. Tingkat kerugian ini menunjukkan eskalasi konflik dan penyimpangan dari prinsip-prinsip yang diatur dalam kesepakatan. Komunitas internasional menganggap tindakan ini sebagai pelanggaran sengaja terhadap ketentuan yang disepakati.
Ancaman terhadap Stabilitas dan Perdamaian Regional
Para menteri menegaskan bahwa pelanggaran yang terus-menerus ini menciptakan bahaya serius bagi perkembangan situasi di kawasan. Tindakan Israel dapat memperburuk ketegangan yang sudah ada antara negara-negara Timur Tengah dan Asia, merusak upaya bertahun-tahun untuk menegakkan perdamaian yang kokoh. Para ahli menyoroti bahwa hal ini juga menghambat pembangunan kepercayaan antar pihak dan membuat tidak mungkin terciptanya kondisi untuk beralih ke normalisasi situasi di Gaza.
Prospek dan Upaya Internasional untuk Proses Perdamaian
Delapan menteri menekankan pentingnya semua pihak menunjukkan kemauan politik dan bekerja secara aktif demi keberhasilan tahap kedua dari rencana pemulihan perdamaian. Komunitas internasional menyerukan agar kesepakatan yang telah dicapai dipatuhi dan menciptakan kondisi nyata untuk membawa kawasan ke fase perkembangan yang lebih stabil. Posisi bersama mereka menunjukkan bahwa kerusuhan dan pelanggaran kesepakatan memiliki konsekuensi internasional yang serius.